Istiqomah

Saya itu, ya saya. Gitu aja dech heheheh. Kalau mau diskusi tentang menulis, pembelajaran bahasa Indonesia, atau tentang Parenting silakan. Boleh via H...

Selengkapnya

Ketika Napas Harus 'Dipause' Sejenak

Seperti juga laptop, tubuh manusia perlu 'dimatikan'sejenak agar tidak kepanasan lalu hang. Begitulah saya mengartikan kondisi nyaris pingsan yang hampir saya alami siang tadi.

Bukan karena kelelahan karena habis menyelesaikan tugas negara yang berat. Bukan. Malu banget kalau saya yang bukan siapa-siapa sok-sokan ngerasa seperti itu. Bukan. Nyaris pause sejenak lebih karena saya lagi diet plus hobi kubam (mabuk, bahasa walikan Malang).

Apakah ini efek ditolak duo penjaga pintu masuk tadi pagi? Ah, tidak juga. Ditolak keduanya toh tadi saya ditolong Pak Polis gagah saat ngambil koper saya. Pak Polis yang ngaku dari Riau ini mengingatkan saya pada Mbak Susi Respati, Alus Mushar Laily, Yossilia, Jurniati, ... Hedeh. . Apakah pikiran saya yang melayang pada sosok para ibu guru itu pertanda saya sebegitu terpesona pada Pak Polis.

Entahlah. Buntu. Saya tak menemu pengaitnya.

Begitulah, turun dari kereta di Stasiun Bandung saya langsung mencari go car. Pikiran saya cuma satu: makan. Saya lapar banget karena tidak punya camilan sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung.

Jangan bilang saya pelit banget sampai-sampai gak mau beli jajanan buat diri sendiri. NO. Makanan yang dijual di kereta tidak ada yang sesuai dengan menu diet yang sedang saya jalani. Jadilah saya cuma minum sebotol tanggung air mineral.

Unfortunately alias lhadalah. Kok ya jalanan macet. Saya ini gak cuma antilaper, tetapi juga antimacet. Macet selalu membuat hobi lama saya, mabuk darat kambuh.

Bayangkanlah saat macet. Rem bolak-balik diinjak. Kopling pun begitu. Srrrt. Reeng. Sreet reeng. Isi perut berasa mau migrasi. Kepala rasanya srperti globe yang lagi dipelajari anak-anak SD. Diputer-puter. Mendadak percakapan sopir grab pun mirip pertanyaan para profesor saat ujian thesis dulu. Ya ampun. Benar-benar menderita.

Begitulah, sampai di hotel saya langsung menuju meja resepsionis untuk check inn. Saya tunjukkan email Traveloka dan KTP saya.

"Ibu vouchernya belum ya? " tanya si Mbak Resepsionis.

"Maksudnya? " tanya saya masih dengan kepala serasa muter 90 derajat.

"Voucher Ibu terbayar untuk Kamis kemarin. "

"What??? ?" seruku dalam hati.

Detik itu saya bersyukur karena masih setengah sadar. Bayangkan, dalam kondisi sadar teriakan saya pasti memalukan. Bukan sekadar kaget karena duit setengah jeti itu hangus sia-sia. Ada yang lebih gawat dari itu. Bahasa Inggris saya medhok banget Jowo-nya.Malu-maluin, kan?

Ya weslah. Daripada saya terguling karena posisi kepala sudah nyaris 60 derajat. Saya bilang ke resepsionisnya.

"Mbak, saya laper banget. Boleh pesan makan dulu. "

Saya lihat Mas-mas yang di samping resepsionis itu seolah sadar. Ia menatap saya beberapa saat lalu bilang.

"Ibu duduk dulu.," katanya sambil menunjuk ke arah sofa.

"Iya, Bu. Saya pesankan makan. Ibu mau apa? "

"Sop buntut dan teh panas, " jawabku.

Entahlah kalau menyebut masakan yang satu ini otak dan lidahku selalu fasih. Ahai... Mendadak saja tubuhku agak hangat. Adakah karena banyan sop buntut hangat yang nikmat atau karena tubuh saya sudah dapat tempat rehat? Sofa di lobi hotel ini lumayan nyaman. Kebetulan juga suasana lagi sepi. Jadi saya bisa sejenak menyandarkan kepala dengan santai.

Tak lama kemudian, Mbak Resepsionis datang sambil membawa sebotol air minum.

"Ibu minum dulu, " katanya ramah.

Saya terima air minum otu dan dengan segera menenggaknya. Saat itu rasanya saya sedang jadi musafir yang nyaris pingsan kehausan di padang pasir. Dan mendadak sofa yang saya duduki berasa jadi punggung onta. Aih. . apakah saya masih mabuk?

Lebih dari setengah botol air minum berpindah ke tenggorokan dan bermuara ke perut saya. Dengan segera saya membeli voucher hotel di Traveloka lagi. Behitu berhasil menyelesaikan pembayaran, saya lambaikan tangan pada si Mbak Resepsionis.

"Ini, Mbak."

Dengan cekatan ia melayani saya. Tak sampai dua menit saya sudah diantar ke kamar.

"Nanti makannya diantar ke kamar. Bu. "

"Terima kasih, " jawab saya lemah lembut.

Swear sosok Srikandi ini mendadak jadi Sembadra. Saya jadi wayang kulit yang kehilangan gapit. Lemah lunglai.

Prosesi masuk kamar dan pipis bukan bagian yang menarik untuk dituliskan. Begitu pun adegan saat saya makan. Itu bukan hal yang layak dikabarkan. Takut pembaca ngiler lalu ngidham.

Belum lama saya menghabiskan sop buntut, pintu kamar diketuk. Tukang pijat yang saya pesan melalui layanan online tiba. Satu setengah jam berikutnya saya memanjakan diri.

Pijat bagi saya adalah terapi paling mujarab saat tubuh kyrang sehat. Pijat kali ini lebih pada mengemvalikakan posisi kepala saya pada koordinat seharusnya.

Dan ketika tulisan ini saya buat, alhamdulillah kepala saya sudah bisa edar normal.

Pelajaran berharganya adalah saat usia tua menyapa, jangan lepas dari petunjuk kebenaran. Ingatlah, betapa Anda sangat butuh kaca mata. Atau bakal banyak hal tidak menyenangkan bakal menyapa. Kejadian salah klik tanggal booking hotel hanya satu peristiwa saja. Yang lain, biarlah jadi rahasia.

Tulisan dan konten dalam kolom ini bisa jadi kurang nyambung. Pas dengan otak saya yang belum fx 100 persen.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali