Istiqomah

Saya itu, ya saya. Gitu aja dech heheheh. Kalau mau diskusi tentang menulis, pembelajaran bahasa Indonesia, atau tentang Parenting silakan. Boleh via H...

Selengkapnya
HUJAN DI MASJIDILHARAM

HUJAN DI MASJIDILHARAM

  • Hujan di Masjidil Haram
    Cara Seorang Diplomat Berkhidmat kepada Sesama
    Judul buku : Hujan di Masjidilharam
    Penulis : Rahmat Aming Lasim
    Penerbit : MediaGuru Indonesia
    Cetakan pertama : Maret 2018
    Tebal buku : xii + 206
    Bicara soal Tanah Haram, pikiran kita pasti tak bisa lepas dari Kakbah,
    Masjidilharam dan Masji Nabawi. Perbincangan umum tentang ketiga hal tersebut
    selalu tak lepas dari Rukun Islam yang ke lima, melaksanakan ibadah haji. Ritual
  • relijius yang diyakini menjadi penyempurna keislaman seorang hamba. Tak heran
    bila Tanah haram juga dikenal sebagai Tanah Suci.
    Sayang julukan sebagai Tanah Suci ini di sisi lain selalu dibincangkan dengan
    nasib malang tenaga kerja Indonesia (TKI, yang saat ini disebut sebagai pekerja
    migran. Setiap hari, media massa seolah tak berhenti menghadirkan berita baru,
    kisah baru, yang lebih banyak pedih dan pilu.
    Adalah Rahmat Aming Lasim, Diplomat Muda Kementerian Luar Negeri
    yang saat ini sedang bertugas sebagai Konsul di Konsulat Jenderal Republik
    Indonesia Jeddah, menuliskan kisah-kisah tentang warga negara Indonesia yang
    tinggal di Timur Tengah, terutama di Saudi Arabia yang belum banyak diketahui
    masyarakat Indonesia. Diplomat muda yang menghabiskan lebih dari sepertiga
    hidupnya di Timur Tengah ini membukakan mata pembaca bahwa sesungguhnya
    masalah yang dihadapi WNI di Timur Tengah tidak melulu terkait dengan tenaga
    kerja Indonesia (tenaga kerja migran).
    Kisah yang diangkat dalam buku ini merupakan catatan kontemplasi pribadi
    penulis yang semula digunakan untuk memotivasi diri di sela-sela mengemban
    tugas memberikan pelayanan dan perlindungan kepada WNI di luar negeri. Tak
    heran bila tulisannya mampu mengaduk-aduk emosi pembacanya karena ditulis dari
    ketulusan hati yang penuh empati, terutama pada para TKI yang paling banyak
    menginspirasi tulisan-tulisannya.
    Penyuka nahwu shorof (ilmu kaidah Bahasa Arab) dan literatur Arab kuno ini
    menghabiskan lebih dari sepertiga hidupnya di Timur Tengah untuk belajar, bekerja,
    dan berkarir. Pengalaman inilah yang membuat tulisan-tulisannya dalam Hujan di
    Masjidilharam menjadi hidup dan sarat makna. Menjadikan Masjidilharam sebagai
    tujuan utama ziarah atau perjalanan jauh bagi seorang muslim adalah hal yang
    sangat wajar. Tak heran bila setiap kali keberangkatan haji, tak hanya doa-doa
    pribadi calon jemaah haji yang dipanjatkan, bahkan doa-doa titipan keluarga dan
    kerabat pun dipanjatkan. Di rumah Allah inilah, jutaan orang bermunajat atas semua
    hajat serta masalah yang dihadapinya. Dalam “Hujan di Masjidilharam,” Aming
    dengan cerdas dan lincah menceritakan tokoh Reni yang mengadukan rencana
    suaminya untuk menikah lagi. Ada juga kisah tentang budaya Indonesia yang
    menjadi ‘sandungan’ saat melakukan ibadah haji, semisal menyimpan kebiasaan
    wanita haid menyimpan potongan rambut dan kuku saat haid. Di Tanah Suci,
    menyimpan pootongan rambut dan kuku dianggap sebagai indikator tindakan sihir.
  • Aming juga dengan cerdas menyentil ‘orang-orang hebat’ yang menggunakan
    ibadah haji dan umrah utntuk pencitraan diri para politikus.
    Tak hanya bicara soal TKI, Peraih cum laude dan koin mas dari Presiden
    UAE atas prestasi akademiknya ini menjadikan isu-isu agama Islam dan Timur
    Tengah sebagai pusat perhatian dan latar belakang dalam beberapa kisah yang
    ditulisnya. Kasus-kasus yang menimpa TKI di Timur Tengah dapat dikatakan
    menjadi sumber utama inspirasi menulisnya. Tak hanya menyoroti masalah Bicara
    tentang TKI di Tanah Suci bagi Aming bukan sekadar soal TKI yang disiksa, tidak
    digaji, diperkosa, bahkan yang dipidanakan. “Di Bawah Pohon Jacaranda”, “Demi
    Sesuap Nasi”, “Jangan Barter TKI” adalah bentuk pergumulan dan pemberontakkan
    pekerja akan nasib dirinya. Mencontoh Mandela yang keluar dari belenggu
    penjajahan bangsanya. Keberanian adalah kunci dalam membebaskan diri bagi
    siapapun termasuk TKI.
    Anak-anak TKI juga menjadi salah satu bidang yang ia tangani dalam tugas
    kesehariannya. Masalah yang paling menonjol adalah terkait kewarganegaraan
    mereka baik anak-anak hasil kawin campur dengan warga negara lain, anak hasil
    perkosaan, anak-anak TKI over stay (yang izin tinggalnya sudah melewati masa).
    Banyak anak TKI yang lahir di Timur Tengah hasil dari kawin campur dengan warga
    negara asing maupun anak hasil perkosaan yang tidak memiliki identitas
    kewarganegaraan yang jelas.
    Kisah anak-anak TKI yang malang ini seolah menjadi penguat cerita sedih
    Sugiyono, Kepala Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) tentang anak-anak didiknya.
    “Banyak anak didik kami yang ditangkap, dimasukkan tarhil (penjara),
    kemudian dideportasi ke tanah air. Di sini mereka tidak memiliki izin tinggal, di tanah
    air, mereka tidak punya siapa-siapa. Mereka mengenal tanah Arab sebagai bumi
    tempatnya dilahirkan dan hanya mengenal Indonesia sebagai tanah air dari buku
    pelajaran,” kisah Sugiyono.
    “Aisyah MembangunMimpi”,“Bunda,AkuInginPulang”adalahpotretburam
    anak TKI yatim yang nyaris kehilangan segalanya. Meski tidak secara jelas
    menggambarkan kerja nyata seperti apa yang telah dilakukan para diplomat dalam
    membantu anak-anak malang itu memperoleh haknya sebagai WNI, Aming mampu
    menggugah kesadaran pembaca bahwa nun jauh di sana banyak anak Indonesia
    yang tidak memiliki apa-apa. Mereka tak hanya tidak memiliki penghidupan yang
    layak, mereka juga seolah tidak punya tanah air, tidak memiliki identitas
  • kewarganegaraan yang jelas, bahkan mungkin tidak memiliki masa depan yang
    jelas. Mereka hanya punya mimpi.
    Hujan di Masjidilharam benar-benar sebuah buku yang akan membuka
    wawasan pembaca bahwa sejatinya masalah TKI di Timur Tengah bukan melulu
    tidak digaji, disiksa, atau dihukum mati. Ada ribuan anak-anak TKI dengan berbagai
    problem kemanusiaan yang perlu pemikiran dan penanganan serius di sana.
    Mereka, anak-anak bangsa itu, tak hanya butuh makan dan sekolah, tetapi butuh
    uluran tangan untuk mengenal tanah airnya, pulang ke tanah air, bahkan untuk
    “berhak” mengaku bertanah air satu dengan kita, tanah air Indonesia.
    Seperti umumnya buku yang ditulis para santri, dalam buku ini Aming juga
    banyak menulis kisah tentang kehidupan pesantren. Kisah-kisah ini seolah ditulis
    sebagai nostalgia dan ungkapan kerinduannya pada tanah air dan Pesantren
    Sunanul Huda di Sukabumi dan Darussalam di Ciamis. Pembelajaran dan obrolan
    khas santri dapat ia gambarkan cukup detail. Kisah-kisah yang secara tersirat
    mengajak pembaca untuk menemukan satu pesan penting bahwa seorang santri
    pun dapat menjadi seorang diplomat asal ia bersungguh-sungguh menuntut ilmu.
    Aming seolah tak mau ketinggalan dengan penulis santri lainnya yang juga acap
    menulis tentang poligami. Baginya, monogami atau poligami bukan hanya soal
    pilihan dan tafsir Surat Annisa tapi bagaimana membagi kavling keikhlasan dalam
    menjalani takdir Tuhan.
    Diplomat bidang diplomasi perlindungan WNI ini menyatakan bahwa Hujan di
    Masjidilharam merupakan salah satu ikhtiarnya untuk berkhidmat kepada mereka
    yang tidak beruntung di luar negeri.
    “Saya akan mewakafkan hasil penjualan buku ini untuk anak-anak yatim dan
    anak-anak TKI yang terlantar dan kurang mampu. Semoga lahir dari TKI, seorang
    diplomat yang mempuni," pesan Aming melalui status FB-nya penuh
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali