Istiqomah

Saya itu, ya saya. Gitu aja dech heheheh. Kalau mau diskusi tentang menulis, pembelajaran bahasa Indonesia, atau tentang Parenting silakan. Boleh via H...

Selengkapnya
DITOLAK

DITOLAK

Tahu radanya ditolak? Sakit. Pasti. Merana? Iya. Bunuh diri? Ah terlalu dini untuk mati sia-sia.

Ekspresi dan respon berlebihan seperti itu tak berlaku bagiku. Meski pagi ini dua cowok gagah erlebih menolakku. Penolakan yang sopan. Itu yang kuterima.

Masa iya saya harus terluka dan merana?

Bukan Waktu yang Tepat

Pagi ini saya harus menuju Bandung. Bukan dari Malang, tapi dari Blok M. Seperti burung saja rasanya. Empat malam di Jakarta, kini saya harus berpindah ke Bandung.

Berpindah dari panasnya Jakarta ke dingginnya Bandung. Persis rasa rindu pada kekasih. Panas dingin rasanya.

Kuputuskan naik kereta karena ingin menikmati perjalanan yang nyaman. Tanpa macet. Siapa tahu di peralanan saya bisa bermimpi. Menuntaskan kangen pada kekasihku. Meski tak nyata. Hehehe.

Tadinya saya ingin cari kereta siang atau sore hari. Ternyata semua sudah sold out. Paling siang hanya ada kereta Argo Parahyanan jam 09.40 WIB.

Usai mandi dan berbenah diri, saya bersegera sarapan pagi. Gak pakai nasi. Cukup sepasang paha ayam goreng, dua iris besar dadar telur, plus srcangkir kopi sura (kopi tanpa gula plus santan instan). Aneh ya? Di lain tulisan, kelak akan saya tuliskan menu spesial saya ini.

Jakarta selalu membuat was-was para pengguna jalan. Itu juga saya rasakan pagi ini. Takut terjebak macet, saya memilih gojek sebagai moda transportasi ke Stasiun Senen.

Tak butuh waktu lama. Sekira 5 menit, gojek pesanan saya tiba. Dan meluncurlah saya melewati gedung-gedung pencakar langit. Panas matahari pagi yang menyengat, jalanan yang padat, melengkapi keangkuhan ibukota. Sesekali saya mengambil foto gedung-gedung pencakar langit. Bukan untuk kenang-kenangan. Namun, begitulah saya, selalu teringat dan terinspirasi. Hanya menyebut kata Jakarta, apalagi hadir di kota ini, selalu membuat Yo hadir dalam pikiran dan imajinasi saya.

" _Yo, kau serupa gefung-gedung pencakar langit itu. Dekat dan nyata. Tapi tak bisa kusentuh apalagi kumiliki."_

Dan itu jelas membuat dada saya hangat. Kadang air mata pun meleleh. Saya bahagia. Yo terasa sangat dekat. Sangat nyata.

Di lampu merah imajinasi saya terpecah. Gerombolan jaket hijau seolah menguasai jalanan. Moda tansportasi murah dan cepat ini kini jadi pilihan kesayangan orang-orang yang sudah 'kalah' melawan macet.

Cukup lama dan jauh juga ternyata jarak Blok M dan Pasar Senen. Namun, perjalanan harus dilanjutkan. Pantang pulang sebelum datang.

Begitu sampai Stadiun Senin, saya langsung ngeprit tiket saya. Setelah itu, dengan mantap saya menuju pintu masuk. Menyerahkan tiket dan tanda pengenal.

"Satu jam lagi, Bu," kata salah seorang penjaga pintu masuk.

"Maksudnya?"

"Iya, Bu. _Check inn_ Ibu satu jam lagi."

Ooo. Untung jantung saya cukup kuat dipasang di dada saya. Jadi gak sampai berguguran saat duo cowok penjaga yang gagah itu menolak saya.

Yaaah, saya harus tabah menerima penolakan ini. Jadi ingat filem "Arini, Masih Ada Kereta." Apa hubungannya coba? Entahlah. Saya juga tidak tahu.

Sekilas saya pandangi kanan kiri galaman Stasiun Senen. Tak ada tempat duduk. Tak ada cafe atau warung. Artinya ....

Tak ada pilihan. Saya pun menikmati pagi ini dengan menggelandang bahagia. Bersama kita bisa. Hehehe. Lagian tak ada prestise apalagi jabatan yang saya pertaruhkan meski saya duduk nyantai di lantai. Saya justru merasa merdeka semerdeka-merdekanya. Kalau Anda belum pernah melakukan atau tak sanggup membayangkan, pastikan suatu hari Anda harus mencoba.

Jadi, kalau pagi ini Anda di stasiun kereta yang sama dan melihat emak-emak duduk melas dan bahagia, pastikan itu saya. Kalau bukan? Bersyukurlah. Karena artinya, semua calon penumpang kereta bahagia. Meski harus menanti duo penjaga yang cakep dan gagah itu membuka pintu hati. Eh, pintu masuk.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mbak @Dian gitu yaaa

10 Aug
Balas

Tek kiro ditolak opo, selalu ada ajah ide Doakan 'hujan rindu kalian'meluncur deras di pelataran menyusulmu bun

10 Aug
Balas

Untung gak ada produser lewat, pasti kena,, ciduk he hehe

10 Aug
Balas

Hihihi, lia kira bunda di Jakarta ada acara. Kalau tahu mau ke Bandung naik kereta di Stasiun senen, dari rumah lia kan lebih dekat bunda. Kan bisa sekalian dianterin ke stasiun.

10 Aug
Balas

Tak lama setelah ini buku-buku baru karya Bunda pasti bermunculan gegara ditolak dua lelaki tampan.

11 Aug
Balas

❤... keren. Wah, jatuh hati saya sama model yang duduk di trotoar stasiun itu, eh maksudnya sama penulis satu ini...

10 Aug
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali